Tekan Karhutla dan Kekeringan, Pemprov Lampung Mulai Operasi Modifikasi Cuaca
- account_circle Redaksi
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak
PERISAILAMPUNG.COM — PEMERINTAH Provinsi Lampung mulai mengerahkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus mengatasi dampak kekeringan yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk pada waduk dan lahan pertanian.
Kick off OMC dilakukan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Posko Pengamatan Cuaca Bandara Radin Inten II, Rabu (26/8/2026). Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mengantisipasi dampak kekeringan dan potensi karhutla di Lampung.
“Pada kesempatan hari ini, kita bisa meluncurkan OMC di Provinsi Lampung ini, atas arahan dan atensi Bapak Presiden untuk bisa melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca di Provinsi Lampung,” ujar Jihan.
Menurut Jihan, OMC tidak hanya ditujukan untuk membantu mengendalikan karhutla, tetapi juga meningkatkan ketersediaan air bagi sektor pertanian. Karena itu, hujan hasil modifikasi cuaca diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk membasahi lahan yang rawan terbakar maupun mengisi sumber-sumber air di wilayah sasaran.
“Semoga apa yang kita lakukan hari ini bisa membawa manfaat, selain membantu membasahi lahan-lahan kita yang berpotensi terjadi hotspot, juga bisa membantu komoditas kita, khususnya pertanian yang hari ini memang perlu pembasahan atau air,” katanya.
Jihan menjelaskan, pelaksanaan OMC tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan lokasi yang mengalami kekeringan atau memiliki hotspot. Penyemaian harus mengikuti perkembangan awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Pada sorti pertama, pesawat OMC diarahkan ke wilayah Lampung Timur dan sebagian kawasan yang berbatasan dengan Lampung Selatan berdasarkan pemantauan citra satelit BMKG yang menunjukkan adanya sejumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang hingga tinggi.
Prakirawan BMKG Iqbal mengatakan, pelaksanaan OMC menghadapi tantangan berupa terbatasnya pertumbuhan awan hujan. Kondisi atmosfer saat ini membuat tim harus menunggu dan memanfaatkan awan yang tumbuh secara alami serta memiliki potensi menghasilkan hujan.
“Memang dari kondisi sirkulasi saat ini, sangat sulit mencari awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Selagi terdapat potensi awan yang cukup bagus dan daerah tersebut ada hotspot, semaksimal mungkin disemai agar membasahi daerah tersebut,” kata Iqbal.
BMKG juga terus memantau potensi pertumbuhan awan di sejumlah wilayah, seperti Lampung Barat, Tanggamus, Lampung Tengah hingga Lampung Utara, untuk pelaksanaan sorti berikutnya. Sasaran penyemaian akan disesuaikan secara dinamis dengan perkembangan awan dan keberadaan hotspot.
Kepala BPBD Provinsi Lampung Rudy Sjawal Sugiarto mengatakan, OMC akan dimaksimalkan selama sekitar lima hari hingga 30 Agustus 2026. Operasi ini difokuskan untuk meningkatkan tutupan air di wilayah yang mengalami kekeringan, terutama waduk dan kawasan pertanian yang menjadi lumbung pangan.
“Sampai dengan tanggal 30 ada kurang lebih lima hari, kita bisa memaksimalkan ikhtiar kita ini untuk meningkatkan tutupan air di wilayah Provinsi Lampung, terutama di waduk-waduk yang memang ada beberapa laporan sudah mengalami kekeringan dan daerah-daerah pertanian yang menjadi lumbung pangan,” ujar Rudy.
Selain OMC, Pemprov Lampung juga menyiapkan operasi water bombing untuk menangani titik api yang telah muncul. Dua pesawat didatangkan untuk mendukung penanganan karhutla, masing-masing untuk misi pemadaman dan patroli. Tim water bombing sebelumnya telah melaksanakan satu sorti pemadaman di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) untuk memadamkan hotspot sekaligus mencegah api meluas.
Pemprov Lampung memperkuat koordinasi antara BPBD, BMKG, BNPB, tim OMC, tim water bombing dan unsur terkait di lapangan. Kepala BPBD juga diminta memastikan air hujan hasil OMC dapat ditampung dan dimanfaatkan secara optimal apabila turun di wilayah yang membutuhkan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghadapi ancaman hidrometeorologi kering yang diperkirakan masih berlangsung hingga September dan Oktober. Dengan menggabungkan OMC untuk meningkatkan pembasahan dan water bombing untuk penanganan titik api, pemerintah berharap risiko karhutla dapat ditekan sekaligus menjaga ketersediaan air bagi masyarakat dan sektor pertanian. (Rls)
- Penulis: Redaksi





