Dosen UBL Perkuat Kompetensi Global melalui Program Infrastruktur Transportasi Cerdas di Tiongkok
- account_circle Redaksi
- calendar_month 11 jam yang lalu
- print Cetak
PERISAILAMPUNG.COM — UNIVERSITAS Bandar Lampung (UBL) terus memperkuat langkah internasionalisasi pendidikan tinggi melalui keikutsertaan salah satu dosennya, Aditya Mahatidanar Hidayat, Ph.D., dalam 2026 ASEAN Program for Teacher Capacity Enhancement di Xuzhou, Tiongkok, yang berlangsung pada 29 Mei hingga 7 Juni 2026.
Program yang diselenggarakan Jiangsu Vocational Institute of Architectural Technology tersebut mengusung tema Smart Construction and Operation & Maintenance of Transportation Engineering Infrastructure. Kegiatan ini berfokus pada penguatan kapasitas dosen di bidang konstruksi cerdas, operasi, dan pemeliharaan infrastruktur transportasi berbasis teknologi digital.
Selama sepuluh hari, peserta memperoleh materi dari akademisi, praktisi industri, dan pengelola infrastruktur di Tiongkok. Sejumlah topik strategis dibahas, mulai dari Intelligent Transportation Systems (ITS), Building Information Modeling (BIM), Digital Twin, pemanfaatan drone untuk survei dan pemetaan, hingga manajemen transportasi perkotaan berbasis data dan kecerdasan buatan.
Selain mengikuti perkuliahan dan seminar profesional, peserta juga melakukan kunjungan teknis ke sejumlah institusi strategis, termasuk Xuzhou Metro Group, guna melihat secara langsung penerapan teknologi digital dalam operasional transportasi rel perkotaan serta pemeliharaan infrastruktur.
Rektor UBL, Prof. Dr. M. Yusuf S. Barusman, MBA, menyambut positif keterlibatan dosen UBL dalam forum internasional tersebut. Menurutnya, partisipasi ini merupakan bagian dari strategi universitas dalam memperkuat mutu akademik, penelitian, dan jejaring global.
“UBL terus mendorong dosen untuk terlibat dalam forum akademik internasional, terutama pada bidang-bidang strategis yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pembangunan masa depan. Keikutsertaan dosen UBL dalam program ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tinggi harus dilakukan melalui kolaborasi global, penguatan kompetensi, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi,” ujar Yusuf, Selasa (9/6/2026).
Ia menambahkan bahwa pengalaman internasional yang diperoleh dosen harus memberikan dampak langsung terhadap pengembangan institusi.
“Pengetahuan dan jejaring yang diperoleh harus dapat ditransformasikan ke dalam pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sehingga mahasiswa UBL memperoleh wawasan yang relevan dengan perkembangan industri dan kebutuhan pembangunan nasional,” tambahnya.
Aditya Mahatidanar Hidayat mengatakan bahwa perkembangan teknologi global menuntut perguruan tinggi untuk terus memperbarui pendekatan pembelajaran dan penelitian, khususnya di bidang transportasi dan infrastruktur.
“Dunia sedang bergerak menuju pengelolaan infrastruktur yang semakin terintegrasi dengan teknologi digital. Melalui program ini, kami memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai penerapan BIM, Digital Twin, dan Intelligent Transportation Systems yang telah berhasil diimplementasikan di Tiongkok,” ujar Aditya.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk memperkuat proses pembelajaran, penelitian, dan pengembangan inovasi di UBL. Mahasiswa teknik, kata dia, tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus mampu membaca arah transformasi digital yang tengah mengubah sektor konstruksi, transportasi, dan pengelolaan infrastruktur.
Program ini juga membuka peluang kolaborasi internasional antara UBL dengan institusi pendidikan dan industri dari negara-negara ASEAN maupun Tiongkok. Forum diskusi, seminar, dan kunjungan industri menjadi ruang untuk membangun jejaring penelitian, pertukaran pengetahuan, serta kerja sama akademik di masa mendatang.
Melalui keikutsertaan ini, UBL menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang unggul, inovatif, dan berdaya saing internasional. Pengetahuan yang diperoleh dari program tersebut diharapkan dapat diadaptasi dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat guna mendukung pembangunan infrastruktur transportasi yang cerdas dan berkelanjutan di Indonesia.
“Tantangan Indonesia memang berbeda, tetapi prinsip inovasi, efisiensi, dan keberlanjutan yang kami pelajari sangat relevan untuk mendukung pembangunan transportasi masa depan,” tutup Aditya. (Rls)
- Penulis: Redaksi




