Unila Dorong Lampung Jadi Pusat Cassava Nasional Berbasis Riset dan Hilirisasi
- account_circle Redaksi
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak
PERISAILAMPUNG.COM — UNIVERSITAS Lampung (Unila) mendorong pengembangan singkong atau cassava di Provinsi Lampung tidak berhenti sebagai sentra produksi, tetapi berkembang menjadi pusat cassava nasional yang ditopang riset, inovasi, hilirisasi, industri, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Cassava bertema “Menuju Lampung sebagai Pusat Cassava Nasional” yang digelar Unila melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Selasa (8/9/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-61 Unila itu berlangsung di Ruang Sidang Utama Rektorat Unila dan diikuti peserta secara luring maupun daring dari unsur pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, petani, dunia usaha, industri, serta pemangku kepentingan lainnya.
Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., mengatakan Lampung memiliki posisi strategis dalam pengembangan cassava nasional. Berdasarkan data yang disampaikannya, Lampung merupakan penghasil singkong terbesar di Indonesia dengan produksi mencapai 6.683.758 ton atau sekitar 34,63 persen dari total produksi singkong nasional. Potensi tersebut diperkuat oleh ketersediaan lahan, industri pengolahan, pelaku usaha, perguruan tinggi, serta dukungan pemerintah daerah.
Menurut Lusmeilia, besarnya potensi tersebut harus diikuti dengan pengembangan yang lebih terpadu. Singkong tidak hanya dipandang sebagai komoditas pertanian, tetapi juga memiliki peluang besar sebagai bahan baku industri, pakan, bioenergi, pangan, hingga berbagai produk hilirisasi yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Mari bersama-sama kita wujudkan Provinsi Lampung tidak hanya sekadar sebagai sentra produksi, namun benar-benar tumbuh menjadi Pusat Cassava Nasional yang inovatif, kompetitif, dan berkelanjutan,” ujar Lusmeilia.
Ia menegaskan Unila siap mengambil peran dalam membangun ekosistem pengembangan cassava melalui penguatan riset, inovasi, pendidikan, serta kolaborasi dengan pemerintah dan dunia industri. Unila juga siap menjadi salah satu penggerak pembentukan National Cassava Center (NCC) sebagai ekosistem kolaboratif untuk memperkuat penelitian dan pengembangan singkong.
“Unila siap untuk berkolaborasi dengan semua peneliti dan perusahaan untuk mengembangkan singkong yang menjadi tulang pokok, sehingga Unila dapat menjadi center penelitian dan pengembangan cassava,” katanya.
Dari pemerintah pusat, Direktorat Aneka Kacang dan Umbi, Kementerian Pertanian RI turut memberikan perspektif mengenai arah pengembangan komoditas tersebut. Materi “Kebijakan dan Strategi Pengembangan Produksi dan Hilirisasi Cassava Nasional” disampaikan Dr. Ir. Siti Nurjanah. Pembahasan tersebut menekankan bahwa pengembangan cassava tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pengolahan dan hilirisasi untuk menciptakan produk bernilai tambah.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, menyampaikan materi “Strategi Pemerintah Provinsi Lampung Membangun Network Orchestrator Menuju Lampung Pusat Cassava Nasional”. Penguatan jejaring tersebut dinilai penting untuk menyatukan berbagai sumber daya dan kepentingan dalam membangun ekosistem cassava di Lampung.
Wakil Rektor Bidang Akademik Unila, Prof. Dr. Eng. Suripto Dwi Yuwono, S.Si., M.T., dalam laporan kegiatan mengatakan seminar nasional tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menghasilkan gagasan dan langkah strategis yang dapat diterjemahkan menjadi program nyata.
“Melalui seminar ini, kita berharap dapat menghasilkan gagasan, rekomendasi, dan langkah-langkah strategis yang tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi program nyata dalam meningkatkan produktivitas, inovasi, hilirisasi, nilai tambah, dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Seminar turut menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidang cassava, di antaranya Prof. Dr. Eng. Ir. Udin Hasanudin, M.Sc., dan Prof. Dr. Ir. Robert Manurung, M.Eng.
Keterlibatan berbagai unsur kelembagaan, akademisi, petani, dan dunia usaha diharapkan dapat memperluas jejaring serta membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman untuk memperkuat posisi Lampung sebagai pusat pengembangan cassava nasional. (Rls)
- Penulis: Redaksi





