Momen Haru Warnai Wisuda ke-75 UBL, Ibunda Wakili Almarhum Putranya Terima Ijazah
- account_circle Redaksi
- calendar_month 8 jam yang lalu
- print Cetak

Foto Dok UBL
PERISAILAMPUNG.COM – MOMEN haru menyelimuti prosesi Wisuda ke-75 Universitas Bandar Lampung (UBL) yang digelar di Convention Hall Mahligai Agung Pascasarjana UBL, Rabu (3/6/2026). Suasana yang semula dipenuhi kebahagiaan mendadak hening ketika nama almarhum Prabowo Adi Putra dipanggil untuk menerima gelar Sarjana Administrasi Bisnis (S.A.B.).
“Bu, ini kebaya untuk dipakai waktu Aa wisuda ya,” begitu pesan Prabowo kepada ibundanya sebelum hari kelulusannya tiba.
Namun takdir berkata lain. Kebaya yang telah dipersiapkan untuk mendampingi sang putra di hari bahagia itu justru dikenakan sang ibu saat mewakili almarhum menerima ijazah dan gelar sarjana di atas panggung wisuda.
Prabowo diketahui telah menyelesaikan seluruh kewajiban akademiknya. Namun, ia berpulang sebelum sempat mengikuti prosesi wisuda. Sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan dan dedikasinya selama menempuh pendidikan, UBL tetap menganugerahkan gelar sarjana yang diterima langsung oleh ibundanya.
Dengan langkah perlahan dan mata berkaca-kaca, sang ibu maju ke atas panggung untuk menerima ijazah putranya. Momen tersebut langsung menyentuh hati para hadirin yang hadir. Banyak peserta wisuda, keluarga, hingga sivitas akademika tampak terharu menyaksikan prosesi tersebut.
Di balik gelar yang diterima, tersimpan kisah tentang kerja keras, pengorbanan, dan cinta keluarga yang mengiringi perjalanan Prabowo hingga menuntaskan pendidikannya.
Dosen penguji skripsi almarhum, Suci Asfarani, mengenang Prabowo sebagai mahasiswa yang cerdas, aktif, dan memiliki semangat belajar yang tinggi.
“Selama di kelas, Prabowo adalah mahasiswa yang pintar, aktif berdiskusi, dan selalu ingin memahami materi secara mendalam. Ia juga pribadi yang santun dan rendah hati sehingga disukai dosen maupun teman-temannya,” ujar Suci, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, Prabowo menjalani perkuliahan sambil bekerja demi mewujudkan cita-citanya membahagiakan keluarga.
“Dia pernah bercerita ingin membuat kedua orang tua dan adiknya bangga. Karena itu, dia berjuang menyelesaikan kuliah sambil bekerja. Saya melihat sendiri betapa besar tanggung jawab dan semangat yang dimilikinya,” katanya.
Selain aktif dalam kegiatan akademik, Prabowo juga dikenal memiliki jiwa kewirausahaan yang kuat. Semasa kuliah, ia merintis usaha kopi bernama Glug Kopi dan kerap berdiskusi dengan dosen pembimbing mengenai strategi pengembangan usahanya.
“Saya melihat Prabowo memiliki keberanian untuk memulai dan kemauan yang besar untuk terus belajar. Glug Kopi menjadi bukti bahwa ia tidak hanya memiliki mimpi, tetapi juga berupaya mewujudkannya melalui langkah nyata,” ujar Suci.
Bagi Suci, Prabowo adalah sosok muda yang menyimpan mimpi besar untuk keluarganya. Karena itu, momen ketika gelar sarjananya diterima oleh sang ibu menjadi peristiwa yang sangat menyentuh.
“Saya yakin hari itu seharusnya menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam hidupnya dan keluarganya. Meski ia tidak sempat hadir, perjuangannya telah tuntas. Gelar yang diterima ibundanya menjadi bukti bahwa seluruh kerja keras dan pengorbanannya tidak sia-sia,” pungkasnya.
Di tengah kemeriahan Wisuda ke-75 UBL, penghormatan kepada almarhum Prabowo Adi Putra menjadi salah satu momen yang paling membekas. Saat sang ibu menerima ijazah di atas panggung, yang hadir bukan hanya kenangan tentang seorang mahasiswa yang telah berpulang, tetapi juga kisah tentang perjuangan, cinta keluarga, dan mimpi yang berhasil dituntaskan.
Gelar sarjana yang diraih Prabowo menjadi bukti bahwa dedikasi, kerja keras, dan pengorbanannya akan selalu dikenang. (Rls)
- Penulis: Redaksi




