Puluhan Massa Demo di DPRD Lampung, Soroti MBG dan Utang Daerah
- account_circle Redaksi
- calendar_month 12 jam yang lalu
- print Cetak
PERISAILMPUNG.COM – PULUHAN massa yang tergabung dalam Aliansi Lampung Bersatu Awasi Kebijakan dan Anggaran (Alam Baka) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Provinsi Lampung, Kamis (25/6/2026).
Dalam aksi tersebut, mereka menyampaikan sejumlah tuntutan terkait pengawasan program pemerintah, mulai dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tunggakan BPJS Kesehatan, hingga pinjaman daerah senilai Rp1 triliun.
Aksi yang berlangsung di halaman DPRD Lampung itu diwarnai orasi serta pembentangan spanduk dan poster berisi kritik terhadap sejumlah kebijakan yang dinilai perlu mendapat pengawasan lebih ketat.
Koordinator Aksi Alam Baka, Noviyanto, mengatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan melalui Badan Gizi Nasional (BGN) perlu diawasi secara serius mengingat besarnya anggaran yang digunakan serta berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaannya di daerah.
Menurutnya, sejumlah isu yang menjadi perhatian antara lain kualitas makanan, pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dugaan monopoli usaha, dugaan jual beli titik lokasi, hingga indikasi penguasaan program oleh kelompok tertentu.
“Program ini menggunakan anggaran negara yang besar sehingga pelaksanaannya harus transparan dan akuntabel. Jangan sampai muncul dugaan-dugaan yang menimbulkan ketidakpercayaan publik,” kata Noviyanto dalam orasinya.
Atas dasar itu, pihaknya mendesak dilakukannya audit investigatif independen terhadap pelaksanaan MBG dan pengelolaan SPPG di Provinsi Lampung.
Selain audit, massa juga meminta Badan Gizi Nasional dan pihak terkait membuka informasi secara transparan terkait mekanisme penunjukan pengelola, penggunaan anggaran, serta sistem pengawasan yang diterapkan dalam program tersebut.
“Kepolisian, Kejaksaan, dan KPK harus mengusut tuntas seluruh dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan MBG, termasuk dugaan praktik monopoli, jual beli titik lokasi, penyalahgunaan kewenangan, dan pengaturan pengelolaan program oleh kelompok tertentu,” tegasnya.
Tak hanya menyoroti MBG, massa juga mendesak Pemerintah Provinsi Lampung segera menyelesaikan tunggakan iuran BPJS Kesehatan yang disebut mencapai Rp105,4 miliar agar tidak berdampak pada pelayanan kesehatan masyarakat.
Selain itu, mereka meminta dilakukan audit dan evaluasi secara terbuka terhadap pinjaman daerah sebesar Rp1 triliun yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Menurut mereka, masyarakat berhak mengetahui manfaat, risiko fiskal, sumber pembayaran, serta dampak utang tersebut terhadap APBD di masa mendatang.
Ia menilai persoalan MBG, tunggakan BPJS Kesehatan, dan pinjaman daerah memiliki keterkaitan karena sama-sama menyangkut tata kelola anggaran publik, transparansi kebijakan, serta akuntabilitas penggunaan uang negara.
“Kami ingin memastikan setiap rupiah uang rakyat digunakan secara tepat, transparan, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam aksi tersebut, massa juga meminta pemerintah menjamin keterlibatan pelaku usaha lokal secara adil dan terbuka dalam pelaksanaan program pemerintah tanpa praktik monopoli, kartel, maupun intervensi pihak tertentu.
Massa turut mendesak DPRD Lampung memperkuat fungsi pengawasan terhadap program-program pemerintah serta memastikan kebijakan anggaran daerah dijalankan secara transparan, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Aliansi Lampung Bersatu menyampaikan delapan tuntutan diantaranya yaitu audit pelaksanaan MBG, transparansi penggunaan anggaran, penyelesaian tunggakan BPJS Kesehatan, evaluasi utang daerah, hingga penguatan pengawasan terhadap kebijakan publik di Provinsi Lampung. (**)
- Penulis: Redaksi





