Kolaborasi Pemprov Lampung dan Kementan Dongkrak Produktivitas Padi
- account_circle Redaksi
- calendar_month 18 jam yang lalu
- print Cetak
PERISAILAMPUNG.COM — PEMERINTAH Provinsi Lampung memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam meningkatkan produktivitas padi melalui penerapan Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) dan dukungan Pupuk Hayati Cair (PHC).
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui panen raya Demfarm PM-AAS di Desa Rama Nirwana, Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah, Kamis (20/8/2026). Demfarm yang dilaksanakan pada lahan seluas 100 hektare itu menunjukkan hasil menggembirakan dengan potensi produktivitas rata-rata mencapai 11,2 ton per hektare berdasarkan pengukuran metode ubinan.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan capaian tersebut menjadi bukti bahwa penerapan teknologi pertanian modern melalui PM-AAS mampu meningkatkan produktivitas padi secara signifikan.
“Alhamdulillah, pemodelan PM-AAS yang dilaksanakan di Lampung hari ini telah memasuki tahap panen. Hasil pengukuran melalui metode ubinan juga sangat menggembirakan, dengan potensi produktivitas mencapai rata-rata 11,2 ton per hektare. Ini menunjukkan bahwa kegiatan percontohan atau piloting PM-AAS telah berhasil,” ujar Gubernur Mirza.
Menurutnya, keberhasilan tersebut akan menjadi pijakan bagi Pemprov Lampung untuk mendorong perluasan penerapan PM-AAS ke lahan persawahan di seluruh Lampung. Pemprov menargetkan penerapan PM-AAS mencapai 35 ribu hektare hingga akhir 2026 dengan terus memperkuat kolaborasi bersama Kementan.
“Kami menyadari bahwa PM-AAS di Lampung mampu meningkatkan produktivitas hingga dua kali lipat dibandingkan hasil panen sebelumnya. Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat, khususnya petani, tentu akan semakin meningkat,” katanya.
Selain PM-AAS dan PHC, Pemprov Lampung juga mendorong peningkatan pengairan dan indeks pertanaman (IP) sebagai bagian dari strategi meningkatkan produksi padi. Produksi padi Lampung tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 3,5 juta ton dan berpeluang meningkat menjadi 4 juta ton pada tahun depan apabila penerapan PM-AAS diperluas dan indeks pertanaman terus meningkat.
“Semua ini untuk memakmurkan petani. Kalau petani makmur, insyaallah Provinsi Lampung juga akan makmur. Kalau petani maju, insyaallah Provinsi Lampung juga akan semakin maju,” ujar Mirza.
Sementara itu, Plh. Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Tin Latifah mengapresiasi dukungan Pemprov Lampung terhadap pelaksanaan PM-AAS, termasuk melalui program PHC. Menurutnya, Lampung merupakan salah satu daerah penyangga produksi pangan nasional dan masuk lima besar provinsi yang memberikan kontribusi besar terhadap produksi pangan nasional.
“Oleh karena itu, apabila produksi di Lampung mengalami penurunan, tentu capaian produksi nasional juga akan ikut terdampak,” kata Tin.
Ia menilai hasil demfarm di Seputih Raman menunjukkan potensi besar peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi, penggunaan benih unggul, pengelolaan budidaya yang tepat, serta kolaborasi berbagai pihak. Produktivitas di atas 10 ton per hektare, menurutnya, bukan sesuatu yang mustahil apabila seluruh komponen tersebut diterapkan secara tepat.
Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Lampung Endro Gunawan mengatakan Demfarm PM-AAS di Desa Rama Nirwana dilaksanakan pada lahan seluas 100 hektare. Ia mengapresiasi dukungan Pemprov Lampung melalui PHC yang menjadi salah satu komponen penting dalam penerapan PM-AAS, khususnya dalam mendukung penggunaan bahan organik dan meningkatkan kualitas budidaya pertanian.
“PHC menjadi salah satu komponen penting dalam penerapan PM-AAS, khususnya dalam mendukung penggunaan bahan organik dan peningkatan kualitas budidaya pertanian,” ujarnya.
Endro menjelaskan panen perdana demfarm telah dilaksanakan pada 7 Agustus 2026. Berdasarkan hasil pengukuran ubinan pada tiga titik, produktivitas masing-masing mencapai 10,6 ton, 11,46 ton, dan 11,7 ton per hektare. Rata-rata produktivitas dari tiga titik tersebut mencapai sekitar 11,2 ton per hektare.
“Capaian ini merupakan hasil yang luar biasa, terlebih di tengah kondisi kemarau dan fenomena El Nino,” kata Endro.
Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari kerja keras petani, pendampingan penyuluh, penerapan teknologi PM-AAS, serta dukungan berbagai pihak, termasuk PHC melalui program Pemprov Lampung.
Keberhasilan demfarm ini menjadi pijakan bagi Pemprov Lampung dan Kementan untuk memperluas penerapan PM-AAS. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas padi, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan kontribusi Lampung terhadap produksi pangan nasional. (Rls)
- Penulis: Redaksi






