Pupuk Hayati Cair Dongkrak Produktivitas dan Percepat Masa Panen Kopi
- account_circle Redaksi
- calendar_month 15 jam yang lalu
- print Cetak
PERISAILAMPUNG.COM – GUBERNUR Lampung Rahmat Mirzani Djausal terus mendorong pengembangan komoditas kopi sebagai salah satu sektor unggulan daerah melalui penerapan inovasi teknologi pertanian yang ramah lingkungan.
Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, kualitas hasil panen, sekaligus kesejahteraan petani kopi di Provinsi Lampung.
Komitmen tersebut ditunjukkan saat Gubernur meninjau Kebun Induk Hanakau milik UPTD Balai Benih dan Kebun Induk (BBKI) Dinas Perkebunan Provinsi Lampung di Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat, Kamis (9/7/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur didampingi Wakil Bupati Lampung Barat Mad Hasnurin, jajaran Pemerintah Provinsi Lampung, serta Pemerintah Kabupaten Lampung Barat. Rombongan meninjau langsung kawasan kebun yang menjadi pusat percontohan, penelitian, dan pengembangan benih kopi unggul di Provinsi Lampung.
Kebun Induk Hanakau mengembangkan dua jenis kopi utama, yakni robusta dan arabika. Untuk robusta, tersedia sejumlah klon unggul nasional seperti BP 939, BP 936, BP 534, dan BP 436 sebagai sumber benih berkualitas.
Selain itu, kebun ini juga mengembangkan klon lokal potensial, antara lain Kopi Bagio, Turun Ujung, Bodong, dan Tugu Sari yang dipersiapkan menjadi varietas unggul bersertifikat.
Sementara itu, sekitar 200 batang kopi arabika ditanam sebagai bagian dari uji adaptasi di kawasan dataran tinggi Sukau guna mendukung pengembangan kopi arabika di Lampung Barat.
Dalam dialog bersama para petani, Gubernur memperkenalkan inovasi Pupuk Hayati Cair (PHC) yang mulai diterapkan di Kebun Induk Hanakau. PHC merupakan pupuk organik berbasis mikroorganisme lokal yang diproduksi dari bahan-bahan ramah lingkungan, seperti limbah kelapa, limbah kedelai, dan air cucian beras.
Menurut Gubernur, penggunaan PHC mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman secara signifikan. Tanaman menjadi lebih sehat, daun lebih hijau, pembungaan lebih cepat, ukuran buah lebih besar, serta kesuburan tanah meningkat sehingga penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi.
Sebagai bentuk dukungan kepada petani, Gubernur juga menyerahkan sampel PHC dalam kemasan botol untuk diuji coba di lahan masing-masing.
Penerapan PHC di Kebun Induk Hanakau telah dimulai sejak 2025 pada lahan percontohan seluas dua hektare. Hasil uji coba menunjukkan peningkatan pertumbuhan dan produktivitas tanaman dibandingkan lahan yang belum menggunakan PHC.
Salah satu hasil yang paling menonjol ialah percepatan masa produksi tanaman kopi. Jika umumnya tanaman kopi mulai berbuah dan dipanen setelah sekitar tiga tahun, penggunaan PHC mampu mempercepat masa berbuah menjadi sekitar 1,5 hingga dua tahun.
“Buah kopi terlihat lebih besar, kualitasnya lebih baik, serta pertumbuhan tanaman lebih optimal,” ujar Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.
Ia menegaskan, penerapan inovasi seperti PHC merupakan bagian dari strategi Pemerintah Provinsi Lampung untuk memperkuat daya saing komoditas kopi sekaligus meningkatkan pendapatan petani melalui teknologi yang murah, mudah diterapkan, dan ramah lingkungan.
Sementara itu, Wakil Bupati Lampung Barat Mad Hasnurin mengapresiasi perhatian Pemerintah Provinsi Lampung terhadap pengembangan kopi di daerahnya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur Lampung yang telah hadir langsung di Kebun Induk Hanakau untuk melihat potensi kopi Lampung Barat,” ujarnya.
Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi penyemangat bagi para petani sekaligus memperkuat kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas kopi melalui inovasi Pupuk Hayati Cair.
“Kami berharap program ini terus dikembangkan sehingga kesejahteraan petani meningkat dan kopi Lampung Barat semakin berdaya saing di pasar nasional maupun internasional,” pungkasnya. (**)
- Penulis: Redaksi









