Gubernur Mirza Dorong Unila Jadi Motor Transformasi Ekonomi Lampung melalui Hilirisasi
- account_circle Redaksi
- calendar_month 16 jam yang lalu
- print Cetak
PERISAILAMPUNG.COM — UNIVERSITAS Lampung (Unila) didorong memperkuat perannya sebagai motor transformasi ekonomi daerah melalui riset, inovasi, dan hilirisasi komoditas unggulan Lampung. Perguruan tinggi dinilai memiliki posisi strategis untuk mengubah potensi sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia.
Dorongan tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri Rapat Luar Biasa Senat Unila dalam rangka Dies Natalis ke-61 di Gedung Serba Guna (GSG) Unila, Rabu (23/9/2026). Menurutnya, setelah 61 tahun berdiri, Unila diharapkan semakin memberikan dampak nyata terhadap pembangunan dan perekonomian Lampung.
“Unila ke depan setelah 61 tahun ini harus bisa menjadi kampus, menjadi motor transformasi. Bagaimana ekonomi yang diputar ini, yang diubah ini, motor transformasinya adalah Unila,” ujar Gubernur Mirza.
Ia mengatakan, Lampung memiliki kekuatan besar pada sektor pangan dan pertanian dengan berbagai komoditas unggulan, seperti padi, jagung, singkong, nanas, pisang, lada, tebu, kopi, kelapa, kakao, dan kelapa sawit. Potensi tersebut dinilai perlu didukung inovasi dan teknologi agar tidak berhenti pada penjualan bahan mentah.
Gubernur menyebut sekitar 70 persen penduduk Lampung bekerja pada sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Karena itu, perubahan harga komoditas turut memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat. Menurutnya, peningkatan harga komoditas telah mendorong daya beli masyarakat, tetapi belum sepenuhnya mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara maksimal.
Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah rendahnya tingkat hilirisasi. Dari sekitar Rp165 triliun nilai sektor primer, Gubernur menyebut baru sekitar 40 persen yang telah dihilirisasi, sementara sebagian lainnya masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Karena itu, Unila diharapkan mengambil peran lebih besar dalam mengembangkan teknologi dan model hilirisasi yang sesuai dengan karakteristik daerah. Gubernur mencontohkan keterlibatan perguruan tinggi dalam mengembangkan tebu menjadi gula, jagung menjadi pakan, serta singkong menjadi tapioka, glukosa, sorbitol, dan produk turunan lainnya.
“Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi tebu menjadi gula. Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi jagung jadi pakan. Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi dari singkong jadi tapioka, jadi glukosa, jadi sorbitol dan lain-lain,” katanya.
Menurutnya, hilirisasi bukan hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap produk turunannya yang masih diimpor. Karena itu, pengembangan teknologi dan sumber daya manusia di tingkat lokal dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat industri berbasis komoditas Lampung.
Salah satu kolaborasi yang didorong Pemprov Lampung bersama Unila adalah pengembangan National Cassava Center. Gubernur menyebut produktivitas sejumlah komoditas Lampung masih dapat ditingkatkan, termasuk singkong yang saat ini berada di kisaran 25 ton per hektare, sementara potensinya dapat mencapai 40 hingga 60 ton.
Lampung juga memiliki posisi strategis dalam industri singkong nasional karena sekitar 70 persen produksi tapioka Indonesia berasal dari daerah ini. Pemprov Lampung bersama Unila menargetkan pengembangan bibit unggul singkong pada tahun depan dan peningkatan produktivitas secara signifikan pada 2027.
Gubernur mengatakan peningkatan produktivitas singkong akan berdampak terhadap masyarakat karena hampir 500.000 penduduk Lampung menggantungkan aktivitas ekonominya pada komoditas tersebut. Pengembangan produk turunan seperti glukosa dan maltosa juga dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
Selain hilirisasi, kolaborasi Pemprov Lampung dan Unila juga diarahkan pada penguatan sumber daya manusia. Generasi Z dan post-Gen Z disebut mencapai 42,77 persen atau hampir lima juta orang di Lampung, sehingga menjadi salah satu kekuatan penting dalam pembangunan ekonomi daerah.
Sementara itu, Rektor Unila Lusmeilia Afriani menyampaikan bahwa pada Dies Natalis ke-61, Unila mengusung semangat “Be Strong”, dari kampus yang kuat menuju kampus yang berdampak. Keberhasilan perguruan tinggi, menurutnya, tidak hanya diukur dari capaian kelembagaan, tetapi juga dari manfaat riset, inovasi, kebijakan, dan pengabdian yang dirasakan masyarakat.
Melalui kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Unila diharapkan semakin berperan sebagai penghubung antara pengetahuan, inovasi, dan kebutuhan pembangunan daerah. Hilirisasi berbasis komoditas lokal diharapkan mampu menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat perekonomian Lampung secara langsung. (Rls)
- Penulis: Redaksi





