Pameran Kayu Ara dan Lomba Literasi, Batin Wulan Dorong Generasi Muda Cintai Budaya Lampung
- account_circle Redaksi
- calendar_month 17 jam yang lalu
- print Cetak
PERISAILAMPUNG.COM– BUNDA Literasi Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza atau Batin Wulan, mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal sejarah, mencintai, dan melestarikan budaya Lampung melalui kegiatan literasi, seni, dan kreativitas.
Ajakan tersebut disampaikan Batin Wulan saat menghadiri rangkaian kegiatan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Jumat (23/10/2026). Kegiatan tersebut meliputi pembukaan Pameran Kayu Ara: Arsitektur, Teknologi, dan Budaya Lampung karya Anshori Djausal, serta pembagian hadiah Lomba Pidato Bahasa Lampung dan Lomba Menulis Cerpen.
Pameran Kayu Ara yang sebelumnya digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, kini hadir di Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung. Batin Wulan mengapresiasi karya dan dedikasi Anshori Djausal sebagai tokoh budaya dan ilmu pengetahuan yang dinilai mampu memberikan inspirasi serta kontribusi bagi kemajuan daerah.
Menurutnya, pameran tersebut tidak sekadar menampilkan karya, tetapi juga menyuguhkan cerita dan nilai sejarah yang dapat membantu masyarakat memahami perjalanan serta kekayaan budaya Lampung.
“Bagaimana generasi muda mau bangga dan melestarikan budaya jika mereka tidak mengenal sejarahnya? Melalui pameran seperti ini, kita berharap anak-anak dan generasi muda semakin tertarik mempelajari sejarah serta bangga dengan Provinsi Lampung dan budayanya,” ujar Batin Wulan.
Ia mengajak masyarakat memanfaatkan kesempatan untuk mengunjungi pameran yang berlangsung pada 20 Oktober hingga 2 November 2026 tersebut. Pada kesempatan yang sama, Batin Wulan juga mengapresiasi peserta dan pemenang Lomba Pidato Bahasa Lampung tingkat SMP/MTs serta Lomba Menulis Cerpen tingkat SMA/SMK/MA.
Batin Wulan mengaku bangga melihat antusiasme dan keberanian para peserta dalam menyampaikan pidato, bahkan tanpa menggunakan teks. Menurutnya, pesan-pesan tentang pentingnya menjaga adat dan budaya yang disampaikan para peserta menunjukkan bahwa generasi muda memiliki semangat untuk melestarikan bahasa daerah.
“Ini luar biasa. Anak-anak kita masih di tingkat SMP sudah berani tampil dan menyampaikan pesan tentang pelestarian budaya. Selamat kepada para pemenang. Namun, bukan hanya kemenangan yang utama, keberanian untuk tampil dan berkarya juga merupakan hal yang sangat membanggakan,” katanya.
Ia menegaskan, pelestarian bahasa Lampung merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat yang tinggal di Provinsi Lampung, bukan hanya masyarakat bersuku Lampung. Karena itu, penggunaan bahasa daerah perlu terus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, disertai pengenalan pakaian batik Lampung dan lagu-lagu daerah.
Batin Wulan juga berharap pelestarian budaya dapat mendorong perkembangan industri kreatif daerah, termasuk batik Lampung. Menurutnya, selain tapis, batik Lampung merupakan bagian dari kekayaan wastra yang perlu terus dikembangkan melalui inovasi para perajin dan pelaku UMKM.
“Selain tapis, kita juga memiliki batik Lampung yang menjadi bagian dari kekayaan wastra daerah. Mudah-mudahan ini dapat mendorong para perajin dan pelaku UMKM batik Lampung serta wastra untuk terus berinovasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, lomba pidato dan menulis cerpen menjadi wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan imajinasi, mengasah kemampuan menulis, serta menyampaikan pesan positif melalui karya sastra. Ia berharap sekolah terus mendorong kegiatan yang menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan seni budaya Lampung, seperti pidato, drama, menyanyikan lagu daerah, dan kegiatan kreatif lainnya.
Dalam kesempatan itu, Batin Wulan menekankan bahwa perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi, pengembangan kreativitas, dan pengenalan seni budaya bagi anak-anak serta masyarakat.
“Kita percaya membangun daerah dimulai dari sumber daya manusianya. Dengan membaca, anak-anak akan memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Karena itu, kita perlu terus membangun kecintaan terhadap literasi, membaca, dan menulis,” tuturnya.
Batin Wulan berharap Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung bersama perpustakaan di 15 kabupaten/kota terus menghadirkan inovasi dan kegiatan menarik agar semakin diminati masyarakat. Ia juga mengingatkan agar kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dimanfaatkan untuk memperluas akses pengetahuan dan mendukung kemajuan kebudayaan tanpa menghilangkan identitas daerah.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Batin Wulan mengajak kalangan pendidikan, komunitas literasi, penggiat seni, dan masyarakat untuk bekerja sama membangun ekosistem budaya yang inklusif dan berkelanjutan.
“Mari kita ciptakan lingkungan yang mendorong anak-anak dan generasi muda gemar berkreasi dan berkarya, sehingga mereka bangga menjadi anak Indonesia dan menjadi bagian dari masyarakat Lampung,” ujarnya.
Selain pameran dan lomba, rangkaian kegiatan juga diisi dengan aktivitas bersama anak-anak TK. Batin Wulan menyapa anak-anak, mengikuti kegiatan melukis menggunakan media balon, serta menerbangkan layang-layang bersama.
Kegiatan tersebut diselenggarakan bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Dewan Kesenian Lampung (DKL), Perkumpulan Pelayang Indonesia (Pelangi), Universitas Lampung, Institut Teknologi Sumatera, dan Universitas Bandar Lampung. (Rls)
- Penulis: Redaksi



