
PERISAILAMPUNG.COM — RAMADAN tahun ini menjadi pengalaman berbeda bagi Aprinisa, dosen Fakultas Hukum Universitas Bandar Lampung (UBL) yang tengah menempuh studi doktoral di Rusia. Untuk pertama kalinya, ia menjalani ibadah puasa jauh dari tanah air, tepatnya di Kota Moskow yang masih diselimuti musim dingin.
Aprinisa, yang akrab disapa Riri, saat ini melanjutkan studi S3 di Peoples’ Friendship University of Russia (RUDN University) dengan konsentrasi Hukum Bisnis. Ia mengungkapkan bahwa suasana Ramadan di Moskow sangat kontras dibandingkan dengan Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim.
“Kalau di Indonesia, Ramadan selalu terasa hidup. Menjelang magrib jalanan ramai oleh penjual takjil, aroma makanan khas Ramadan, serta suasana kebersamaan yang kuat. Di sini suasananya jauh lebih sunyi karena masyarakat menjalani aktivitas seperti biasa,” ujarnya melalui pesan WhatsApp, Selasa (10/3/2026).
Ia menceritakan, pada awal Ramadan suhu udara di Moskow masih berada di bawah nol derajat Celsius, dengan salju yang sesekali turun menutupi jalanan dan bangunan kota. Kondisi tersebut memberikan pengalaman tersendiri dalam menjalankan ibadah puasa.
“Berpuasa di suhu dingin sangat berbeda. Tidak ada rasa haus yang menyengat seperti di daerah tropis, tetapi dinginnya udara justru menjadi tantangan tersendiri bagi tubuh,” katanya.
Durasi puasa di Moskow pada awal Ramadan berkisar antara 13 hingga 14 jam, dimulai sekitar pukul 04.30 pagi dan berakhir menjelang pukul 18.45 waktu setempat. Secara durasi, waktu berpuasa tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Namun, suasana yang berbeda membuat pengalaman menjalani puasa terasa lebih unik.
Menurutnya, hal yang paling terasa bukan sekadar perbedaan cuaca, melainkan suasana Ramadan yang lebih individual. Tanpa keramaian khas bulan suci seperti di Indonesia, ia menjalani ibadah puasa dengan suasana yang lebih tenang dan reflektif.
“Untuk berbuka puasa, saya biasanya menyiapkan makanan sederhana seperti kurma, air hangat, sup, atau nasi dengan lauk yang dibeli dari supermarket terdekat. Di tengah udara Moskow yang dingin, makanan hangat terasa sangat berarti setelah seharian berpuasa,” ujarnya.
Meski berada jauh dari tanah air, ia mengatakan suasana Ramadan tetap terasa melalui kebersamaan komunitas Muslim di kota tersebut. Umat Muslim di Moskow tetap menjalankan berbagai tradisi Ramadan, salah satunya dengan melaksanakan salat tarawih berjamaah di sejumlah masjid besar. “Salah satunya di Moscow Cathedral Mosque yang menjadi pusat kegiatan umat Muslim di sini,” tuturnya.
Selain itu, komunitas Muslim yang berasal dari berbagai negara seperti Asia Tengah, Timur Tengah, hingga Asia Tenggara juga kerap mengadakan kegiatan buka puasa bersama sebagai bentuk kebersamaan di tengah kehidupan kota metropolitan yang multikultural.
Riri menilai, menjalani Ramadan di luar negeri memberikan pengalaman spiritual yang berbeda. Tanpa suasana meriah seperti di tanah air, ibadah puasa justru terasa lebih personal dan penuh perenungan.
“Ramadan di sini mengajarkan banyak hal tentang kemandirian, ketahanan diri, serta bagaimana menjaga iman di tempat yang jauh dari rumah,” katanya.
Menurutnya, pengalaman menjalani Ramadan di Rusia menjadi pengingat bahwa makna bulan suci tidak selalu hadir melalui keramaian atau tradisi yang meriah, tetapi juga dapat ditemukan dalam kesederhanaan dan keheningan. (Rls)
