Mengapa Banyak Mahasiswa Salah Program Studi dan Salah Karier?
- account_circle Redaksi
- calendar_month 10 jam yang lalu
- print Cetak

Rektor UBL Prof. Dr. M. Yusuf S. Barusman
PERISAILAMPUNG.COM – MEMILIH perguruan tinggi dan program studi kerap dianggap sebagai keputusan penting yang akan menentukan masa depan seseorang. Namun, di tengah perubahan dunia kerja yang berlangsung begitu cepat akibat perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta transformasi industri global, memilih program studi saja ternyata tidak lagi cukup.
Fenomena salah jurusan maupun salah arah karier masih banyak terjadi. Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang akhirnya bekerja di bidang yang berbeda dengan jurusan yang mereka tempuh saat kuliah. Bahkan, sebagian mahasiswa merasa kehilangan arah di tengah perkuliahan karena belum memahami potensi diri, minat, bakat, maupun tujuan karier yang ingin dicapai setelah lulus.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan generasi muda saat ini bukan sekadar menentukan kampus atau program studi, melainkan memahami siapa diri mereka dan masa depan seperti apa yang ingin dibangun.
Rektor Universitas Bandar Lampung (UBL), Prof. Dr. M. Yusuf S. Barusman, menilai perubahan dunia kerja yang sangat dinamis menuntut pendekatan pendidikan yang berbeda dibandingkan masa lalu.
“Dulu seseorang dapat memilih satu profesi dan menjalani karier yang relatif stabil hingga masa pensiun. Saat ini situasinya berbeda. Banyak profesi baru muncul, sementara beberapa pekerjaan yang ada saat ini mungkin akan berubah atau bahkan hilang dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, generasi muda perlu memahami dirinya terlebih dahulu sebelum menentukan langkah pengembangan kariernya,” ujar Yusuf, Jumat (5/6/2026).
Menurut Guru Besar Ilmu Manajemen tersebut, keberhasilan seseorang pada masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik atau berasal dari perguruan tinggi tertentu. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan mengenali potensi diri, beradaptasi terhadap perubahan, serta mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Di sisi lain, para orang tua juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain mempertimbangkan kualitas akademik sebuah perguruan tinggi, mereka kini mulai mempertanyakan sejauh mana kampus mampu membantu mahasiswa mempersiapkan masa depan dan karier setelah lulus.
“Orang tua tentu ingin anak-anaknya tidak hanya memperoleh gelar sarjana, tetapi juga memiliki arah masa depan yang jelas, keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja, serta kemampuan untuk berkembang di tengah perubahan yang terus berlangsung,” lanjutnya.
Yusuf menegaskan, di era ketika teknologi dan kecerdasan buatan terus mengubah lanskap pekerjaan, pertanyaan terpenting bagi generasi muda bukan lagi sekadar program studi apa yang harus dipilih, melainkan potensi apa yang dimiliki dan masa depan seperti apa yang ingin dibangun.
Menurutnya, jawaban atas pertanyaan tersebut akan menjadi fondasi utama dalam membangun karier dan meraih kesuksesan di masa depan.
“Di era ketika teknologi dan kecerdasan buatan terus mengubah lanskap pekerjaan, pertanyaan terpenting bagi generasi muda bukan lagi sekadar program studi apa yang harus dipilih, melainkan potensi apa yang dimiliki dan masa depan seperti apa yang ingin dibangun. Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menjadi fondasi kesuksesan mereka di masa depan,” pungkas Yusuf. (Rls)
- Penulis: Redaksi




