Bahasa Indonesia Dijunjung, Bahasa Lampung Dirawat, Bahasa Asing Dikuasai
- account_circle Redaksi
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak
PERISAILAMPUNG.COM — BAHASA bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga identitas bangsa dan warisan budaya yang perlu dijaga. Di tengah perkembangan zaman dan persaingan global, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar perlu diperkuat, bahasa daerah harus tetap dilestarikan, sementara penguasaan bahasa asing menjadi bekal untuk menghadapi tantangan dunia.
Pesan tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan saat membuka Evaluasi dan Apresiasi Hasil Pembinaan Lembaga Pemerintah dan Swasta di Hotel Golden Tulip Springhill Lampung, Rabu (14/10/2026).
Gubernur menegaskan, bahasa Indonesia memiliki kedudukan penting sebagai identitas bangsa, simbol persatuan, sekaligus cerminan martabat negara. Karena itu, penggunaannya sesuai kaidah harus menjadi tanggung jawab bersama, baik di lingkungan pemerintahan maupun sektor swasta.
“Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, bahasa Indonesia adalah identitas bangsa, simbol persatuan, dan cerminan martabat negara,” ujar Gubernur dalam sambutan tertulisnya.
Menurutnya, pengutamaan bahasa Indonesia perlu diwujudkan melalui penggunaan bahasa yang tepat dalam dokumen resmi, surat-menyurat, papan informasi, nama bangunan, media publikasi, hingga komunikasi pelayanan kepada masyarakat.
Pembinaan kebahasaan, lanjutnya, bukan hanya bertujuan memperbaiki kesalahan penulisan, melainkan juga membangun budaya berbahasa yang tertib, santun, dan efektif. Evaluasi menjadi kesempatan bagi setiap lembaga untuk mengukur capaian, mengidentifikasi kekurangan, serta menyusun langkah perbaikan secara berkelanjutan.
Gubernur berharap evaluasi tersebut tidak berhenti pada penilaian administratif, tetapi menghasilkan perubahan nyata dalam penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan kelembagaan. Untuk itu, perangkat daerah serta lembaga pemerintah dan swasta didorong terus bersinergi dengan Balai Bahasa Provinsi Lampung melalui pembinaan, pendampingan, dan pengawasan berkala.
Namun, mengutamakan bahasa Indonesia bukan berarti mengesampingkan bahasa daerah. Sebaliknya, bahasa Lampung sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah juga harus terus digunakan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Salah satu upaya Pemerintah Provinsi Lampung untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah ialah mendorong penggunaan bahasa Lampung setiap Kamis. Kebijakan tersebut diharapkan menjadi kebiasaan yang memperkuat kecintaan masyarakat terhadap bahasa dan budaya Lampung.
“Kita tetap menghormati dan melestarikan bahasa daerah. Pemerintah Provinsi Lampung telah mengeluarkan instruksi untuk penggunaan bahasa Lampung setiap hari Kamis,” ungkapnya.
Gubernur juga mengapresiasi Balai Bahasa Provinsi Lampung serta seluruh lembaga yang telah berpartisipasi dalam pembinaan kebahasaan. Kolaborasi tersebut diharapkan semakin kuat sehingga penggunaan bahasa Indonesia sesuai kaidah menjadi bagian dari budaya kerja dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Lampung Muhammad Muis mengatakan, pembinaan kebahasaan terhadap lembaga pemerintah dan swasta telah berlangsung selama sekitar lima hingga enam tahun terakhir. Evaluasi dan apresiasi dilakukan untuk melihat penerapan hasil pembinaan sekaligus mendorong peningkatan kesadaran berbahasa di lingkungan kelembagaan.
Muis menjelaskan, upaya tersebut sejalan dengan konsep Trigatra Bangun Bahasa, yaitu utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing. Ketiga prinsip itu perlu dijalankan secara seimbang agar masyarakat mampu menjaga identitas nasional sekaligus menghadapi persaingan global.
Ia mengajak seluruh lembaga memberikan perhatian terhadap penggunaan bahasa Indonesia pada berbagai informasi yang mudah diakses masyarakat, seperti poster, papan nama, dan media publikasi lainnya.
“Kalau kita menulis poster, papan nama, atau tulisan-tulisan yang mudah diakses publik, mari kita bersama-sama ikut bertanggung jawab untuk meletakkan bahasa Indonesia pada posisi yang paling atas,” ujar Muis.
Selain lingkungan kelembagaan, pelestarian bahasa daerah juga perlu dimulai dari keluarga. Menurut Muis, penggunaan bahasa Lampung di kawasan perkotaan perlu terus didorong agar bahasa tersebut tetap hidup dan tidak kehilangan penuturnya.
“Bagi Bapak dan Ibu yang suami istri orang Lampung, pakailah bahasa Lampung itu di rumah. Jangan sampai bahasa Lampung itu hilang,” ajaknya.
Ia menilai keluarga memiliki peran penting dalam mengenalkan dan membiasakan anak-anak menggunakan bahasa daerah. Dengan demikian, pelestarian bahasa Lampung tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga tumbuh melalui kebiasaan sehari-hari di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Di sisi lain, Muis mengingatkan pentingnya penguasaan bahasa asing, terutama bagi generasi muda. Kemampuan tersebut dibutuhkan untuk memperluas akses pendidikan, membuka peluang kerja, dan meningkatkan daya saing di tingkat internasional.
“Jangan sampai anak kita nanti kalah bersaing, apalagi pada tataran global. Mari kita sama-sama mendorong anak-anak kita untuk menguasai salah satu bahasa asing,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, Balai Bahasa Provinsi Lampung juga memberikan apresiasi kepada lembaga yang dinilai berhasil menerapkan pengutamaan bahasa Indonesia dalam dokumen kelembagaan dan ruang publik tahun 2026.
Pada kategori pemerintah, Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung meraih Terbaik I, disusul Perwakilan Ombudsman RI Lampung sebagai Terbaik II dan Kantor Kementerian Agama Kota Metro sebagai Terbaik III.
Sementara pada kategori swasta, Hotel Golden Tulip Springhill Lampung meraih Terbaik I, diikuti Lembah Hijau sebagai Terbaik II dan Lampung Post sebagai Terbaik III.
Melalui pembinaan dan evaluasi tersebut, penguatan bahasa Indonesia diharapkan berjalan beriringan dengan pelestarian bahasa Lampung dan penguasaan bahasa asing. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjaga identitas dan jati diri bangsa, tetapi juga memiliki bekal untuk beradaptasi serta bersaing di tengah pergaulan global. (Rls)
- Penulis: Redaksi



